Dari Sarjana Peternakan Mau ke DevOps/Cloud?
Iya, kamu baca judulnya dengan benar.
Latar belakang akademik aku: Peternakan. Bukan Informatika, bukan Sistem Informasi, bukan yang ada hubungannya sama komputer sama sekali. Dan sekarang aku lagi ngejar karir di DevOps dan Cloud Engineering.
Kalau kamu pikir ini cerita “dari nol jadi expert dalam 30 hari” — maaf, bukan. Ini lebih ke cerita tentang nyoba banyak hal, gagal di beberapa, dan akhirnya nemu sesuatu yang somehow klik.
Awalnya: Mau Jadi Web Developer
Kayak kebanyakan orang yang mulai belajar coding sendiri, aku mulai dari HTML dan CSS.
Awalnya oke. HTML masuk akal — ini struktur, ini konten, ini logis. Tapi begitu masuk CSS, semuanya mulai terasa beda.
CSS itu bukan cuma soal nulis kode. CSS itu soal desain. Dan desain itu butuh kreativitas, attention to detail yang tinggi, dan kepekaan visual yang… jujur aja, bukan kelebihan aku. Bikin layout yang rapi di desktop, terus ngatur supaya tetap rapi di mobile? Itu bukan cuma frustrasi biasa — itu kayak ngerjain dua pekerjaan sekaligus dengan skill yang aku emang gak punya.
Aku nyoba bertahan. Tapi lama-lama nyadar: aku bisa belajar CSS, tapi aku gak akan pernah menikmati CSS.
Pindah ke Python untuk backend. Lumayan lebih masuk akal, tapi kebingungan tetap ada. Rasanya kayak setiap kali aku ngerti satu hal, muncul tiga hal lain yang belum dimengerti.
Ketemu Video DevOps di YouTube
Di tengah kebingungan itu, aku nemu sebuah video YouTube yang ngebahas soal DevOps — apa itu, ngapain, dan kenapa lagi tren.
Reaksi pertama aku? Skeptis. “Ini pasti hype doang.”
Tapi aku gak langsung dismiss. Aku riset dulu. Baca-baca, nonton beberapa video lagi, coba ngerti gambaran besarnya.
Dan semakin aku riset, semakin ada sesuatu yang terasa familiar.
Momen yang Bikin Yakin
Waktu itu aku kerja di rental PlayStation. Dan di sana, aku punya kebiasaan iseng: kalau ada sesuatu yang bisa diperbaiki, aku perbaiki.
Salah satunya soal pencatatan. Awalnya sistemnya satu file Excel per hari — manual, rawan salah, dan bos harus ada di tempat kalau mau cek data. Aku gak diminta ngubah apapun, tapi aku iseng-iseng migrate semuanya ke OneDrive dan restrukturisasi jadi satu file per bulan. Rumus-rumusnya aku kunci biar gak kena hapus tidak sengaja. Dan karena pakai Microsoft 365, data itu jadi live — bos bisa monitoring langsung dari HP, dari mana aja, tanpa perlu laporan manual lagi.
Waktu itu aku gak tau nama formalnya apa. Aku cuma mikir: “ini masuk akal, kenapa gak diberesin?”
Nah, waktu lagi riset DevOps — tentang automation, tentang bikin sistem lebih reliable, tentang mengurangi human error — aku nyadar: aku udah lakuin versi sederhananya tanpa tau itu DevOps.
Bukan berarti aku udah jago. Tapi itu cukup buat bikin aku yakin bahwa cara pikirnya nyambung sama cara aku mikir.
Satu Hal Lagi yang Makin Yakin
DevOps butuh Linux. Dan itu kabar baik buat aku.
Waktu itu kemampuan Linux aku belum seperti sekarang. Tapi aku udah suka Linux — udah nyobain beberapa distro, udah terbiasa sama terminal, udah ngerasa nyaman di ekosistemnya.
Jadi ketika tau bahwa DevOps sangat erat sama Linux, itu bukan beban tambahan. Itu justru jadi salah satu alasan kenapa pilihan ini terasa tepat.
Sekarang
Aku masih di perjalanan. Belum kerja di bidang ini, masih ngebangun portfolio, masih banyak yang harus dipelajari.
Tapi kalau ada yang nanya: “Emang bisa dari Peternakan masuk ke DevOps?”
Bisa. Dengan catatan: bukan karena background-nya gak penting, tapi karena di dunia ini yang lebih dinilai adalah apa yang bisa kamu buktikan, bukan gelarnya apa.
Dan kalau kamu juga lagi bingung, udah nyoba beberapa jalur dan belum nemu yang klik — mungkin memang butuh waktu. Gak harus langsung tau dari awal.
Aku aja taunya dari ngoprek Excel di rental PS.